infonusantaranews.com- Seorang guru PNS  Opik Hodiman sudah menerima sanksi. Ia dipindahtugaskan  di Sapras. Namun, ia mengaku masih mengenang bagaimana mantan atasannya, Kepala Sekolah SD Sekarwangi Soreang yang berperan dalam "penyingkiran" dirinya. Apa lagi sekarang ditambah dengan pemecatan istrinya dari guru PPPK.

Awalnya, tahun 2025  sejumlah guru dan Komute Sekolah, yang didukung oleh kepala desa setempat beraudensi ke Komisi D DPRD Kabupaten Bandung meminta dorongan untuk mengusulkan mutasi Kepala SDN Sekarwangi (Hj. Juariah).

Alasan minta Kepala Sekolah SDN Sekarwangi untuk dimutasi karena para guru tidak nyaman dengan keberadaan Kepala SDN Sekarwangi. Namun, alih-alih Kepala SDN bisa dimutasi, malahan berbalik arah Sang Kepala Sekolah mencari celah untuk menyerang balik guru yang dianggap dituakan di pihak yang menyerangnya.

Maka, Opiklah yang dibidik. Opik mengaku, Kepala SDN Sekarwangi Soreang melaporkan dirinya ke Disdik dalam hal ini Kasi Bimbingan dan Pengembangan. Pengaduan Kepala SD Sekarwangi ada bukti rekaman audionya. Selain bukti rekaman audio, percakapan komentar di grup WA juga Opik simpan sebagai bukti.

Kepala SDN Sekarwangi membuat skenario dengan tanda tangan  25 orang tua siswa seolah  memberi keluhan dan datang ke sekolah membuat pernyataan dan penanda tangan.  Ketika di konfirmasi Opik ternyata  berdasar fakta di lapangan, ke 25 orang tua tersebut tidak hadir ke sekolah. 

"Itu hanya karangan Kepala SDN Sekarwangi. Ia membuat narasi seolah olah orang tua siswa memberikan laporan,  padahal kenyataan hanya upaya untuk menjatuhkan saya  karena ada unsur dendam pribadi," kata Opik, Senin 22 Juni 2026.

Ia  menuturkan,  sebelumnya Kepala SDN Sekarwangi  meminta  orang tua Kelas 3A SDN Sekarwangi untuk hadir ke sekolah dengan  menebarkan isu  bahwa banyak keluhan  dari orang tua sebelumnya. Namun, orang tua yang hadir ke sekolah hanya dua  orang dari 40 lebih orang tua murid.

Di antara orang tua murid itu ada Dian, ia diminta  Kepala SDN Sekarwangi  untuk mendatangi orang tua murid (dor to dor ) ke tiap rumah, karena tidak hadir ke sekolah tadi.

"Dengan bermodalkan secarik kertas tanpa ada redaksi  yang  bisa diketahui apa maksud dari menandatangan itu Dian  mendatangi beberapa orang tua murid untuk menandatangan  dengan berbagai cara argumen supaya mendapatkan tanda tangan, karena harus segera dilaporkan ke Kepala Sekolah," katanyam