Citarum lama di Kampung Mahmud Desa Mekarrahayu Kecamatan Margaasih Kabupaten Bandung.(Foto Sopandi).
________________________________________
iNNews, Bandung- Meski adat rumah panggung sudah tidak dihiraukan di Kampung Mahmud Desa Mekarrahayu Kecamatan Margaasih Kabupaten Bandung, tetapi Kampung Mahmud tetap masih dijuluki Kampung Adat.
Di kampung yang seluas 2 hektar, yang terdiri satu RW, dan 4 RT, dengan jumlah 320 kepala keluarga, serta 1500 penduduknya, warga pernah tidak berani membangun rumah dari témbok dan berlantai keramik. Tidak boleh ada tetabuhan musik. Tradisi ini sudah mulai pudar, rumah warga kini 75 persen sudah tembok dan berlantai keramik.
Namun, mengenai carita Kampung Mahmud tetap disampaikan turun-temurun ke generasi sekarang, jadi carita turun tumurun bahwa Kampung Mahmud didirikan oleh Eyang Abdul Manaf alias Eyang Mahmud sabagai orang Sunda yang menyebarkan agama Islam di Bandung Selatan.
Untuk mempertahankan kampung adat, tradisi rumah panggung memang sulit, lantaran memang sesungguhnya bukan hal yang tabu tapi ini sebuah filosifi supaya hidup sederhana, tidak silau dengan urusan kaduniawian dan tidak berlebihan mencintain dunia.
Di antara warga yang sudah tidak begitu peduli dengan adat tersebut, carita mengenai Kampung Mahmud itu berasal dari rawa yang diurug dengan sekepal tanah oleh Eyang Mahmud, tanah dari Mekah itu masih dipercaya warga.
Dulu konon Kampung Mahmud itu rawa di antara Citarum. Sebab Eyang Mahmud memilih tempat itu karena Belanda tidak menyukai di tempat berawa. Oleh sebab itu Eyang Mahmud menjadikan tempat tersebut sebagai kampung.
Sedangkan Citarum yang direlokasi oleh pemerintah sekitar tahun 1980 sebenarnya Citarum yang dulu pernah dibuat oleh Abdulah Gedung salah satu Senopati yang berbakti kepadan Eyang Dalem Haji Abdul Manaf.
Konon dibuatnya Citarum itu menggunakan tongkat digoreskan ke oleh Eyang Abdulah Gedug dengan sesuka permintaan Delem Haji. Dari Pameuntasan lewat Leuwi Katel, Leuwi Nampah, Leuwi Gajah, sampai ke Curug Jompong.
Bekas persimpangan Citarum dulu dengan Citarum sekarang memakai ciri dengan tongkat yang atasnya memakai batu. Ini sebagai ciri bahwa Citarum pernah pindah ke arah leuwi Bagus ka arah Leuwigajah yang sekarang tempat tersebut di Mahmud ada ciri batu. Ini bukan makam tapi ciri Citarum dulu..