"Waktu adalah nikmat yang paling sering disia-siakan manusia. Kita lebih mengutamakan persiapan menghadapi hari tua yang sebenarnya belum pasti akan datang karena mungkin keduluan ajal. Kita lebih mengutamakan validasi manusia, ketimbang dari yang Maha Kuasa".
infonusantaranews.com-Kalimat tersebut seolah menjadi pengingat bahwa kehidupan di dunia hanyalah persinggahan yang dibatasi oleh waktu. Karena itu, saling mengingatkan dalam kebaikan merupakan bagian dari ajaran Islam, bukan untuk menggurui atau merasa paling benar.
Pesan itulah yang terkandung dalam Surah Al-'Ash. Allah SWT bersumpah demi waktu bahwa manusia berada dalam kerugian, kecuali mereka yang beriman, beramal saleh, serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Ayat tersebut mengajarkan bahwa setiap Muslim memiliki tanggung jawab untuk saling mengingatkan agar tidak lalai dalam menjalani kehidupan.
Sayangnya, tidak sedikit orang yang justru menilai siapa yang menyampaikan nasihat, bukan isi nasihatnya. Padahal, dalam sebuah maqolah yang masyhur disebutkan, "Unzhur maa qoola wa laa tandzhur man qoola," yang berarti, "Lihatlah apa yang dikatakan, jangan melihat siapa yang mengatakannya." Pesan itu mengajarkan agar kebenaran diterima dari siapa pun yang menyampaikannya.
Selain itu, Rasulullah SAW juga memberikan pedoman agar manusia tidak menyia-nyiakan kesempatan hidup. Dalam hadits yang diriwayatkan Al-Hakim, Rasulullah bersabda agar memanfaatkan lima perkara sebelum datang lima perkara lainnya, yaitu masa muda sebelum tua, sehat sebelum sakit, kaya sebelum miskin, waktu luang sebelum sibuk, dan hidup sebelum datang kematian.
Kelima kesempatan tersebut merupakan nikmat yang tidak akan terus dimiliki. Masa muda akan berganti dengan usia senja, tubuh yang sehat suatu saat dapat melemah, kecukupan bisa berubah menjadi kekurangan, waktu luang dapat tergantikan oleh berbagai kesibukan, dan pada akhirnya setiap manusia akan menghadapi kematian.
Karena itu, momentum ketika masih memiliki tenaga, kesehatan, rezeki, dan kesempatan seharusnya dimanfaatkan untuk memperbanyak amal saleh dan menebar manfaat bagi sesama. Menunda kebaikan hanya akan membuat seseorang kehilangan kesempatan yang mungkin tidak akan pernah kembali.
Pada akhirnya, hidup bukanlah tentang siapa yang paling lama menikmati dunia, melainkan siapa yang paling baik memanfaatkan waktu yang Allah SWT berikan. Sebab ketika ajal telah tiba, tidak ada lagi kesempatan untuk memperbaiki diri. Yang tersisa hanyalah catatan amal yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Wallahu bishawab.***
