infonusantaranews.com- Setiap tanggal 3 Juli diperingati sebagai Hari Sastra Indonesia atau sering disebut Hari Sastra Nasional. Peringatan Hari Sastra Nasional ditetapkan dari pertemuan dan maklumat para sastrawan Indonesia diselenggarakan di Bukittinggi, 24 Maret 2013.
Dipilihnya tanggal 3 Juli sebagai Hari Sastra Nasional dilatarbelakangi oleh tanggal kelahiran sastrawan besar sekaligus Pahlawan Nasional pertama, Abdoel Moeis yang lahir di Bukit Tinggi Sumatra Barat, pada tanggal 3 Juli 1883. Penetapan ini bertujuan untuk menghormati dan mengenang jasa besar Abdoel Moeis dalam dunia kesusastraan, pers, dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia.
"Salah Asuhan" merupakan novel klasik karya Abdul Muis yang paling populer yang ditulis tahun 1928, mengangkat tema benturan budaya Barat dan Timur. Selain itu, ia juga menulis novel sejarah terkenal seperti Surapati (1950) dan sekuelnya Robert Anak Surapati (1953).
Peringatan Hari Satar Nasional ini menjadi momentum untuk meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap karya sastra sekaligus mengenang jasa para sastrawan yang telah memberikan kontribusi besar bagi perkembangan bahasa, budaya, dan literasi bangsa.
Melalui Hari Sastra Nasional, masyarakat diajak untuk semakin mencintai kegiatan membaca, menulis, dan berkarya. Sastra tidak hanya menjadi media hiburan, tetapi juga sarana menyampaikan nilai-nilai kehidupan, membangun karakter, serta memperkuat identitas budaya Indonesia.
Hari ini, Kementerian Kebudayaan meluncurkan terjemahan 6 novel klasik karya sastrawan Indonesia ke dalam bahasa asing sebagai bagian dari acara Sasana Sastra.
Selain pemerintah pusat, terdapat beberapa pegiat dan institusi yang ikut merayakan momen ini. Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) merilis ucapan dan refleksi Hari Sastra Indonesia hari ini melalui media sosial untuk mengapresiasi para penulis, penyair, dan seluruh insan yang menjaga denyut kesusastraan.
Perpustakaan Jakarta (Taman Ismail Marzuki), mengumumkan rangkaian Festival Sastra H.B. Jassin yang berlangsung dari Juli hingga Oktober 2026 sebagai bentuk merayakan sastra di Kota Sastra.
Peringatan Hari Sastra Nasional menjadi pengingat bahwa sastra memiliki peran penting dalam membangun peradaban bangsa. Dengan terus mendukung perkembangan dunia sastra, Indonesia diharapkan mampu melahirkan lebih banyak karya yang menginspirasi dan memberikan manfaat bagi masyarakat.***