iNNews, Bandung – Wakil Ketua III DPRD Kabupaten Bandung Dr. M. Akhiri Hailuki, S.Ip., M.Si menyampaikan bahwa pemerintah pusat mengurangi transfer anggaran ke Kabupaten Bandung secara drastis, dengan pengurangan hampir mencapai Rp1 triliun untuk tahun 2026.

Untuk itu, dalam menyikapi dikuranginya anggaran Kabupaten Bandung, menurut Hailuki Pemerintah Kabupaten Bandung harus melakukan dua langkah. Pertama menggali potensi untuk meningkatkan PAD, dan yang kedua menghemat anggaran pengeluaran.

Di DPRD sendiri , aku Hailuki sudah melakukan penghematan anggaran sampai 50 persen, atau Rp 8 miliar. “Makanya anggota Dewan sekaran “ngajedog we” . Rapat di tempat, tidak di luar,” katanya sambil berseloroh.

Hal itu disampaikannya saat Anggota Fraksi Demokrat DPRD Kabupaten ini melaksanakan Reses Masa Sidang I Tahun 2025 DPRD Kabupaten Bandung di hari kedua, dengan mengundang konstituennya dari Kecamatan Kutawaringin di Kafe Anggur Desa Pameuntasan, Jumaat (7/11/2025).

Hailuki juga menyoal tidak tercapainya target PAD Kabupaten Bandung dan banyaknya potensi PAD yang tidak tergali. Ia mencontohkan, Kabupaten Bandung mempunyai lahan di Balong Gede Kota Bandung yang sekarang dikelola Ormas, dengan penghasilan 30 juta perhari, tetapi tidak ada masukan ke Pemda. Begitupun lahan di Arcamanik, dan Stadion Jalak Harupat yang kurang maksimal masuk ke Pemda. Dari parkir juga, kata Hailuki banyak yang bocor, terutama parkir elektronik.

Dalam reses itu juga Hailuki menyampaikan bahwa secara moral yang namanya reses dilakukan dengan pemilih dulu, bukan berarti diskriminasi, tetapi harus memperioritaskan pemilih, kemudian dengan masyarakat secara umum.

Hailuki mencontohkan, di Desa Cibodas Kecamatan Kutawaringin, dimana ia sebagai wakil rakyat dari Dapil I. Di sana ia membuat sumur air untuk kepentingan warga karena selama ini bertahun-tahun warga menggunakan air dari kali untuk mencuci dan mandi.

“Itulah fungsi dewan. Walau pun di Desa Cibodas warganya bukan pemilih saya, tetapi secara keseluruhan mereka masyarakat yang harus dibantu,” katanya.

Di reses titik kedua itu ada beberapa aspirasi warga, di antaranya aspirasi yang disampaikan Gumilar, warga Kp. Bojong, Desa Gajahmekar, Kecamatan Kutawaringin yang berdampingan dengan Situs Makom Mahmud.