iNNews, Bandung – H. Cuncun Ahmad Hudaya, S.Pd., M.Si sudah tidak muda lagi. Pensiun dari jabatan terakhirnya sebagai Kabid Kebudayaan di Disbudpar Kabupaten Bandung sudah lama. Tapi semangat dalam melestarikan keasenian, utamana pencak silat tetap menggebu dalam dirinya.
Nama besar sang ayah, Rd. Nunung Achmad Hudaya (alm) yang terbilang tokoh seni di bidang pencak, seolah terus memotipvasi Apih Cuncun, demikian Cuncun Anggraeni Ahmad Hudaya disapa akrab untuk terus mengembangkan Paguron Pencak Silat Riksa Diri yang didirikan oleh sang ayah pada tanggal 31 Agustus 1957.
“Ayah saya tertarik pencak silat hingga membesarkan Paguron Riksa Diri, karena termotivasi oleh salah satu tokoh silat Mbah Khair yang menciptakan Cimande Bogor,” kata Apih Cuncun di kediamannya, Komplek Tanam Kopo Katapang Blok O 1 – 23, Kecamatan Katapang Kabupaten Bandung, Senin ,26 Januari 2026.
Apih Cuncun menceritakan sekilas kiprah Mbah Khair yang menurutnya besar jasanya dalam bidang pencak silat. Konon pengalaman hidup Mbah Khair yang jika mengunjungi satu tempat yang jauh biasa jalan kaki meski harus meléwati hutan. Ketemu dengan macan, ular, atau monyet menjadi inspirasi menciptakan jurus pamacan atau monyet.
R. Nunung ayah Apih Cuncun selain berguru kepada Mabah Khair juga ke sejumlah tokoh pencak silat waktu itu antara taun lima puluhanan.
“Ayah saya lahir di Lembang, kemudian tinggal di daerah Babakantarogong, Bojonggaok, Bojong asih. Saya juga lahir disana. Paguron Riksa Diri didirikan di di sana, waktu usia bapa saya 40 taun. Saat itu di sana daerahnya rawan,” kata Apih Cuncun.
Nama Riksa Diri, kata Apih Cuncun hasil musyawarah para tokoh silat waktu itu. Sejalan dengan waktu, pada tahun 80 an Rd. Nunung berkeinginan pencak silat tidak hanya sekedar seni ibing, tapi harus ada pertandingkan olah raga tarungnya. “Kalau pertandingan tarungnya kan olah raga, sedangkan seni masuknya dalam pasang pasang giri,” katanya.
Waktu itu menurut Apih Cuncun pusat Kabupaten Bandung masihdi Balonggede. Ayah Apih Cuncun mengumpulkan para jawara yang ada di Kabupaten Bandung. Dalam kumpulan tersebut dicetuskanlah Olahraga Pencasikat Seluruh Indonesia (Orpesi).
Terwujudlah satu kegiatan pertandingan silat yang digagas oleh Orpesi. Tetapi, kata Apih Cuncun waktu itu belum ada aturan yang mengikat, sehingga tarungngnya bebas. Satiap kecamatan siapa saja yang merasa sebagai jawara, yang senang pencak silat bisa ikut pertandingan di setiap alun-alun.