iNNews, Bandung – Intervensi Berbasis Masyarakat (IBM) Cageur Bermartabat (Camar) Desa Rancamanyar Kecamatan Baleendah Kabupaten Bandung adalah lembaga yang berkonsentrasi terhadap program rehabilitasi para korban penyalah gunaan narkoba kelas ringan.
Ketua IBM Camar Ajang Kartiwan mengatakan, lembaga yang disahkan oleh Pemerintah Desa Rancamanyar atas bimbingan dan inisiasi dari Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jawa Barat ini didirikan tahun 2023.
Di Kecamatan Baleendah yang terdiri dari 5 kelurahan dan 3 desa kata Jajang, hanya ada 1 IBM di Desa Rancamanyar. Berawal dari keinginan untuk menyelamatkan generasi muda dari bahaya narkoba, IBM ini dibentuk. Awalnya dengan 10 orang pengurus dan menempati sekretariat di sebuah ruangan di kantor Desa Rancamanyar.
“Awal berdiri berhasil merehab 12 orang klein. Setalah program dinyatakan ditutup akhir tahun 2023, kemudian tahun 2024 dibuka lagi dengan jangkauan merehab para korban narkoba, dan tahun 2025 mengelola 5 korban beresiko rendah atau ringan dan berhasil mengobati 1 orang pengguna narkoba berat yang sekarang sudah sembuh,” kata Ajang Kartiwan di Sekretariat IBM Cemara, Jumat (4/7/2025).
Sebenarnya, kata Jajang di tahun 2024 pemerintah pusat menghentikan pendanaan untuk operasional IBM. “Tapi kami didukung oleh kepala desa Rancamanyar Pak Dani Hamdani agar dilanjutkan, sehingga tahun 2024 anggaranya dari desa sehingga bisa berlanjut melakukan pendampingan kepada para klein sampai ke BNNP dan ke rumah sakit Cisarua,” katanya.
Kegiatan IBM dalam merehabilitasi korban narkoba menurut Jajang disinkronisasikan dengan program BNNP, yakni asistensi, di antaranya sering melakukan pertemuan, memberikan edukasi dalam program komunikasi, instruksi dan edukasi.
” Ada juga kita memberikan sosialisasi kepada masyarakat tentang bahaya narkoba, terus memberikan pemahaman -pemahaman kepada klein bagaimana kecerdasan hidup, bagaimana caranya menangkis ajakan -ajakan dari pihak luar agar tidak kembali kepada narkoba,” kata Ajang.
Menurut Ajang , rata-rata usia klein 20 tahun ke atas.Dalam program IBM itu tercakup Sosialisasi Pemetaan dan Penjangkauan Layanan (SPPL).
“Pertama sosialisasi yang kedua pemetaan, dari pemetaan ada penjangkauan. Berdasarkan laporan dari masyarakat di satu daerah ada tempat yang disinyalir suka dijadikan tempat berkumpul. Setelah dilakukan pemetaan dari sana kami bisa mengambil kesimpulan ada satu atau dua orang anak yang menjadi korban. Setelah pemetaan itu kita ada jangkauan yang sifatnya pendekatan,” terang Ajang.
Setelah melakukan langkah tersebut, tambah Jajang maka tim IBM menyampaikan dua pertanyaan pada klein. ” Apakah kamu tahu bahwa itu salah? Dia menjawab salah. Pertanyaan kedua, apakah kamu mau sembuh? Dia menjawab mau. Setelah korban menjawab dua pertanyaan dengan tepat itu kami jadikan untuk direhab dengan sistem program yang diintruksikan dari BNNP,” katanya.